Kehidupan Perguruan Tinggi – Artefak #1 Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion

Di bawah ini merupakan artefak milik Almarhum Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion yang beliau tulis dan dikirimkan ke maillist dosen Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) sekitar pertengahan November 2001, pada masa beliau menjalankan tugas sebagai Ketua ke-3 dalam sejarah kampus STT Telkom. Saat itu di STT Telkom terdapat lima program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 4000 orang dan jumlah dosen sekitar 150 orang bermedian usia 30-an tahun . Setelah STT Telkom berubah menjadi Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) pada tahun 2008, pada bulan Oktober 2012 ini jumlah mahasiswa di kampus IT Telkom sebanyak sekitar 8200 orang. Jumlah dosen tetap saat ini sebanyak 290 orang, dengan dibantu oleh 80 orang dosen luar biasa, yang keseluruhannya bermedian usia 40-an tahun.

Kenangan tentang spirit beliau yang kuat dalam membangun karakter dunia pendidikan Indonesia sungguh-sungguh masih menginspirasi dan aktual untuk saat ini serta masa-masa yang akan datang…

 

 

Apa Saja Tugas Harian Dosen?

Andi Hakim Nasoetion

 ahnmipa@indo.net.id

When the going gets tough,

Only the tough gets going.

 

Poster di depan gedung suatu ATPM

di Jalan Jendral SudirmanJakarta

pada tahun Vivere Periceloso

 

Dahulu ada seorang rektor perguruan tinggi (PT) yang sudah mapan diwawancarai wartawan.  Pertanyaannya ialah apa tindakan rektor itu kalau tiba-tiba saja anggaran operasional PT-nya mengalami pemotongan yang berat karena tekanan depresi. Rektor itu menjawab bahwa yang pertama dilakukannya ialah mengurangi masukan mahasiswa baru, yang kedua mengurangi banyaknya tenaga administrasi, yang ketiga menghentikan pembukaan program studi baru, yang keempat menggabung beberapa program studi yang kurang sesuai dengan permintaan pasar, yang keempat menata kembali struktur organisasi PT-nya, yang kelima kemudian baru mengurangi tenaga teknisnya. Tindakannya yang terakhir dan kalau boleh dihindarkan pelaksanaannya ialah mengurangi banyaknya tenaga akademik yang biasa disebut dosen. Jawaban rektor ini secara tersirat menunjukkan prioritas penyelamatan lembaga yang dinamakan perguruan tinggi kalau badai bertiup mencoba menghancurkan kelangsungan hidup suatu PT yang sudah mapan.

 

Kelangsungan hidup suatu PT yang sudah mapan tidak terutama bergantung pada anggaran operasional yang sebagian besar dihasilkan oleh uang sekolah mahasiswa melainkan oleh masukan keuntungan yang dihasilkan oleh kegiatan penelitian yang dilakukan oleh para dosen berupa HAKI.  Sebagian dari keuntungan yang diperoleh dari berbagai hak patent akan jatuh ke uncang keuangan PT yang kemudian dijadikan biaya operasional PT itu. Itulah sebabnya prioritas perampingan dijatuhkan pertama pada mahasiswa karena baik dosen maupun tenaga teknis/administrasi adalah motor penggerak usaha mendapatkan penghasilan.  Lain halnya dengan PT yang masih ada dalam status baru lahir atau sedang berkembang.  Biaya operasional PT itu sebagian besar kalau tidak seluruhnya berasal dari uang sekolah mahasiswa.  Karena itu kalau keadaan sedang rawan, yang pertama dikurangi adalah dosen tetap dan investasi benda modal seperti laboratorium dan bangunan fisik.  Bahkan yang diutamakan pengurangannya adalah investasi peralatan laboratorium sedangkan bangunan fisik yang ada dimaksimukan penggunaannya dengan mengadakan pergiliran waktu kuliah.  Akibatnya akan menggulung ke dalam atau menjadi suatu involusi.  Proses pendidikan akademik secara cepat atau lambat berubah menjadi pendidikan sambungan sekolah menengah.

 

Oleh karena itu penting sekali dipertelakan apa tugas harian dosen terutama di PT yang masih berkembang dan belum menjadikan hasil penelitian menjadi keluaran utamanya.   Tugas harian dosen itu yang kebanyakan masih berstatus asisten ahli ialah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan pengetahuan dirinya dalam bidang ilmu sejalan dengan tugasnya memberikan bimbingan laboratorium dan memberikan kuliah di bawah pengawasan dosen pembina. Caranya adalah dengan mempelajari berbagai buku-ajar dalam bidang ilmunya yang digunakan secara internasional sejak kira-kira satu dasawarsa yang lalu sampai sekarang.  Melalui pengkajian seperti ini ia akan mendapatkan gambaran bagaimana terjadi perkembangan pengetahuan dalam bidang ilmunya dan bagaimana sejalan dengan perubahan itu terjadi juga perubahan silabus dan cara mengajar. Ia akan mampu melepaskan diri dari penyajian kembali bahan kuliah yang pernah diterimanya sebagai mahasiswa satu sampailimatahun yang lalu, yang kalau ia sama sekali tidak acuh akan diteruskannya terus-menerus seumur hidupnya sebagai dosen.  Dengan melakukan hal ini ia dapat menyusun isi kuliah yang lebih baik daripada apa yang dikuliahkan dosennya kepadanya.  Ia pun akan mampu menyusun pertanyaan ujian yang lebih berkaitan dengan kenyataan.
  2. Mempelajari cara menentukan nilai akhir yang sebaik-baiknya agar setelah huruf mutu ujian ditentukan ia dapat membedakan mana mahasiswanya yang cemerlang, mana yang cukup dan mana yang tidak boleh diluluskan karena tidak menguasai kuliah yang diberikannya.  Dari pola frekuensi huruf mutu yang diberikannya serta dari analisis hasil ujian butir demi butir ia harus belajar menemukan di mana titik kelemahan mahasiswa serta di mana pula titik kelemahannya sendiri menyajikan bahan kuliah yang dapat dicerna mahasiswa dengan baik.
  3. Berbincang-bincang secara berkala dengan rekan dosen dari bidang ilmu lain untuk melihat kembali apakah ada bahan kuliah yang diberikan secara bertumpang-tindih.  Selain itu mengkaji apakah untuk matakuliah yang diberikannya bahan kuliah prasyaratnya sudah diberikan dengan cukup sebelum mahasiswa mengikuti kuliah yang diberikannya.  Kemudian juga ia perlu memeriksa apakah sebagai matakuliah prasyarat, matakuliahnya sendiri sudah memadai untuk mengikuti matakuliah yang lebih lanjut.  Dengan cara ini dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian isi dan susunan matakuliah serta perampingan silabus program studi.

Dengan melakukan ketiga hal di atas ia akhirnya dapat memberi kuliah lain daripada apa yang dikuliahkan dosennya dahulu sewaktu menjadi mahasiswa.  Ia bersama teman-temannya juga dapat mematok beban kuliah sehingga lebih ramping sehingga proses pengajaran menjadi lancar.  Dengan lancarnya proses perkuliahan, ia mempunyai waktu luang lebih banyak untuk berpikir dan merenung dan mengadakan penelitian.  Dengan menemukan hasil penelitian ia akhirnya dapat memenuhi persyaratan menaikkan status akademiknya menjadi lektor dan atau mendapatkan gelar pascasarjana.  Status sebagai lektor dan bergelar pascasarjana ini dan beberapa hasil penelitian atas namanya, akan membuatnya mampu menjadi motor penggerak proses akademik di jurusannya dalam hal pendidikan mahasiswa dan pematangan pengetahuan rekan-rekannya yang lebih muda.

 

Setelah berpengalaman memberi kuliah dan meneliti ini, tiba pula saat baginya untuk menulis buku-ajar yang disusunnya dari catatan kuliah yang diberikannya selama ini beserta pengalamannya meneliti.  Sebagai patokan kemajuannya, dalam 3-4 tahun sebagai asisten ahli ia harus mampu menjadi lektor.  Dalam kurun waktu itu juga ia seharusnya telah berhasil mendapat gelar Magister Teknik dan membuat satu buku ajar. Begitu ia menjadi dosen ia juga harus mampu melatih dirinya menulis karya imiah populer untuk menjadi bahan bacaan bacaan pencerahan bagi masyarakat.

 

Jika setiap dosen di PT yang berstatus berkembang tertentu telah berhasil menyusun suatu buku ajar yang kemudian juga dipakai di kampus lain, dan namanya sering muncul sebagai penulis rubrik opini di koran atau majalah berita mingguan nasional, sedangkan isi tulisannya ikut membentuk opini masyarakat, maka hal itu adalah iklan yang jauh lebih ampuh daripada ikut mendukung iklan ucapan selamat atas keberhasilan atau ulangtahun berbagai perusahaan.  Kalau tadinya dosen muda menumpang nama pada PT tempatnya bekerja, maka mulai saat itu ia saling meminjam nama dengan PT tempatnya bekerja.  Pada tahap berikutnya PT tempatnya bekerja itu yang akan menumpang nama kepadanya sebagai dosen, ilmuwan, atau teknologiwan yang disegani di ajang nasional maupun internasional. Sejalan dengan hal itu namanya akan dipercayai PT lain sebagai pemberi rekomendasi akademik, karena ia dianggap telah mampu memilah mana mahasiswanya yang baik untuk menuntut ilmu di taraf pendidikan yang lebih tinggi. Pada saat itu juga PT tempatnya bekerja itu mulai dikenal orang sebagai suatu pusat unggulan.

 

Bogor, 12 November 2001

Leave a Reply